SADARI KEKHILAFAN DIRI

Tausiyah No Comments »

Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat). dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Qs. Al-Hasyr [59]:18

Sahabat, ketika cahaya kesadaran datang menghampiri, terasa begitu dalam sesal yang menggumpal di dalam diri. Teringat akan lembaran masa lalu yang kelam, tentang orang-orang yang pernah kita sakiti, tentang prilaku diri yang begitu sering melakukan kekhilafan, tentang bhakti kepada kedua orang tua yang belum kita sempurnakan, tentang cela dan aib diri yang belum sempat kita mohonkan ampunan dan tentang rangkaian perjalanan hidup yang seringkali diselimuti oleh dusta dan kebencian. Telah begitu panjang perjalanan yang kita lalui, tanpa kita sadari, telah begitu banyak kita menorehkan tinta hitam dalam sejarah kehidupan kita. Astaghfirullah, itulah kalimat yang seharusnya kerap kita ungkapkan, atas kekeliruan hati yang salah dalam memanfaatkan kehidupan.

Ketahuilah sahabat, noda hitam (dosa) yang kita biarkan melekat pada cermin hati kita, ia akan sulit untuk dibersihkan. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, maka dalam hatinya terdapat satu noda hitam. Dan apabila ia bertaubat (kembali ke jalan lurus) dan beristighfar. Noda hitam itu terhapus dari hatinya. Namun apabila dosa itu bertambah, maka noda hitampun bertambah hingga menutupi hatinya. (Hr.Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Sungguh.. kalaulah kita mau jujur terhadap diri ini, betapa sedikit ketaatan kita kepada-Nya dan begitu sering kita mengkhianati segala kenikmatan yang di berikan-Nya. Tampaknya, kita harus bertanya kepada diri ini, kenapa hati begitu keras membatu, hingga kebenaran tak jua menyatu. Kenapa diri ini begitu bodoh dan tak jua menyadari, padahal, begitu nampak didepan kita hamparan kemaha besaran Allah yang tak tertandingi oleh apapun. Rasanya tak pantas diri ini selalu mengharap kebaikan, dimana saat yang lain begitu sering kita tampakkan kejelekan. Rasanya tak pastas kita mengharapkan ampunan, sementara pada saat yang sama kita melakukan kemaksiatan. Rasanya tak pantas kita menjadi hamba pilihan, karena segala perintah dan larangan tak jua tergerak untuk kita laksanakan.

Sahabat, Setiap tapak kaki kita yang tertinggal sesungguhnya adalah saksi dari perjalanan hari-hari. Hanya orang yang bodoh yang membiarkan hari-harinya tersia-siakan dengan kebathilan, hanya orang yang jahil yang membiarkan waktu hidupnya tercampakan dengan kelengahan dan merugilah keduanya karena kesempatan yang diberikan Allah tak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kita sering mengira, bahwa kita telah melakukan kebaikan. Mungkin selama ini kita menduga, bahwa kita telah sempurna melakukan ketaatan, merasa sudah begitu banyak menjalankan kebaikan. Tetapi ternyata, semua itu hanyalah fatamorgana. Nampak begitu baik dalam persangkaan kita, ternyata begitu buruk dalam pandangan Allah. Kenapa demikian, karena ketaatan yang kita kerjakan hanyalah sekedar menginginkan pujian dan kebaikan yang kita tunjukan tidak diringi dengan keikhlasan.

Umar Ibn Khattab pernah memberi nasehat; Hisablah diri kalian sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat), dihari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal perbuatan kita barang satupun. Sahabat, marilah kita bangun sesuatu yang telah kita robohkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan ketidak ikhlasan. Manfaatkan kesempatan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan Bukalah gerbang kesadaran agar tersibak pintu rahmat dan ampunan. Berbuat baiklah selagi masih punya kesempatan dan bertaubatlah kepada Allah sebelum azal datang menjelang. Tegurlah hati kita yang sedang terlena, agar tidak jatuh terjerat oleh rayuan dunia yang fana. Tegurlah jiwa kita yang gelisah dan goyah, agar tetap menjadi hamba yang mulia.

Sadarilah sahabat, terkadang jiwa kita selalu cenderung pada kelezatan yang sesaat, maka didiklah ia dengan baik agar selalu taat. Temukan jalan kita diantara sekian banyak jalan yang telah membelokkan tujuan hidup kita. Mohonlah selalu hanya kepada Allah agar ditetapkan iman dan Islam kita, sebab itulah jalan yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat.Temukan jalan kita dengan berusaha memahami siapa, dari mana dan mau kemana kita hidup. Ajukan pertanyaan ini kepada bathin kita ini dengan khusu, Insya Allah kita akan menemukan jawaban itu dengan kejernihan pikiran.

Penting untuk kita renungkan nasehat yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim dalam al-fawaid, dia memberi nasehat kepada kita: Jika pada pagi dan sore hari seorang hmba perhatiannya hanya kapada Allah saja, maka Allah akan menjamin seluruh kebutuhannya dan menanggung semua apa yang di cita-citakannya. Allah juga akan mengosongkan hatinya untuk Ia isi dengan mahabbah-Nya dan menjauhkan lidahnya dari menyebut selain Allah untuk kemudian Ia hiasi dengan zikir kepada-Nya, serta memelihara anggota badannya dari kemaksiatan, sehingga ia bergegas untuk mentaati-Nya. sebaliknya, jika sepanjang hari perhatian dan kecenderungan kita hanya kepada dunia, maka Allah akan menimpakan berbagai kesusahan dan kedukaan padanya dan akan menyerahkan persoalannya kepada dirinya sehingga jiwanya hampa daro mahabbah kepada Allah. Lidahnya sibuk dengan menyebut-nyebut selalin Dia dan anggota badannya berat untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Ia akan letih akan letih melayani dunia dan tidak bisa memberi manfaat kepada yang lain. Dengan kata laian, orang yang menolak beribadah kepada Allah dan tidak mencintai-Nya, maka ia akan terjebak kedalam penyembahan dan penghambaan kepada makhluk dan dijadikan oelh Allah sibuk berkhidmat kepada selain-Nya. Allah berfirman:

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang maha pemurah (al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang meyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya” (az-Zukhruf:38).

Maha suci Allah yang memahami segala aib yang tersembuyi, yang maha penerima taubat orang-orang yang tersesat. Tiada pujian yang pantas kita berikan membandingi pujian kepada-Nya. Semoga Allah menghunjamkan kesadaran dihati kita untuk menyadari kekeliruan, mengampuni setiap kemaksiatan. Bersyukur kepada-Nya yang telah menciptakan kita dengan kemuliaan dan kesempurnan. Semoga Allah swt membimbing kita pada jalan yang dirdhoi-Nya, menjauhkan pada jalan yang di murkai-Nya.

WAKTU ADALAH USIA KITA

Tausiyah No Comments »

Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

“Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Qs. Al-Ashr :1-3

Imam Jafar bin Muhammad al-Shadiq memberi nasehat; ” Siapapun yang hari ini dan hari berikutnya sama maka ia adalah orang merugi. Siapapun yang akhir dari dua hari yang dilewatinya buruk, maka ia adalah orang yang terkutuk!. Siapapun yang tak melihat adanya pertambahan kebaikan dalam dirinya, maka ia adalah orang yang berkekurangan!. Dan siapapun yang dirinya berkekurangan, maka kematian lebih baik baginya dari pada kehidupan”. Itulah sebuah nasehat yang harus kita hayati dengan dalam, terlebih ketika hari-hari yang kita lewati tak juga menambah kesadaran untuk merubah diri. Waktu demi waktu terus bergulir, tetapi rentetan perjalanan hidup yang kita jalani hingga hari ini selalu menorehkan keburukan. Alangkah tak pantasnya kita mengaku beriman, tetapi ketika melakukan kemaksiatan terasa begitu aman. Sungguh, terkadang kita memang sering tak tahu berterimaksih. Dr. Yusuf al-Qardhawi pernah menulis dalam sebuah risalahnya, bahwa waktu terus berlalu dan tak pernah kembali, waktu adalah harta manusia yang paling berharga, waktu adalah kehidupan bagi seorang muslim. Belajarlah dari perjalanan hari-hari, dari pergantian siang dan malam. Sebab didalam keduanya ada sesuatu yang baru, dan keduanya dapat mendekatkan sesuatu yang jauh. Dan ketahuilah, sesungguhnya pada masing-masing waktu yang terlewati ada kewajiban yang harus kita laksanakan untuk Allah.

Sahabat, Bingkai kehidupan yang kita jalani selalu pasang surut, beralih pada sebuah keadaan ke keadaan lain. Ada kenikmatan yang pernah kita rasakan, ada kesengsaraan yang pernah kita dapatkan, ada ketaatan yang datang menjelang dan ada kemaksiatan yang terkadang kita lakukan. Pada empat keadaan inilah ada kewajiban hamba untuk Allah. Pertama; bagi kita yang mendapatkan kenikmatan, kewajiban kita harus bersyukur kepada-Nya. Kedua; bagi yang berada dalam kesengsaraan, berkewajiban untuk bersabar dan ridha terhadap ketetapan-Nya. Ketiga; bagi yang sedang berada dalam ketaatan, berharaplah selalu kepada-Nya agar kebajikan, hidayah dan taufiq selalu tertanam dalam jiwa. Keempat: bagi yang berada dalam kemaksiatan, berkewajiban selalu memohon ampunan, bertaubat atas kesalahan agar tersucikan segala kotoran, agar termaafkan segala kemaksiatan. Sungguh, waktu adalah peluang untuk meraih kesempatan dalam menggapai cita. Sekali kita tingalkan waktu, saat itu juga kita tidak dapat mengejarnya lagi walaupun sedetik. Hilang kesempatan timbul kekecewaan, karena di dalam waktulah kita mendapat kebahagiaan dan kesengsaraan. Ketahuilah, perjalanan hidup manusia melaju dengan cepat menuju Allah swt. Hendaknya kita selalu mengadakan perhitungan untung-rugi dari apa yang telah kita kerjakan. Sebab setiap gerak dari kehidupan kita tak ada satupun yang luput dari penghilatan Allah, karena memang Dialah yang memberi kekuatan gerak dalam hidup kita. Betapa seringnya kita tertipu, kita mengira bahwa kita diam, sedangkan waktu terus berjalan. Sebagai perumpaan dalam kehidupan, mungkin kita pernah naik kereta api yang sedang berjalan, nampak dari dalam jendela seakan kita melihat diluar berlari, padahal sesungguhnya kitalah yang bergerak cepat.

Sahabat, diantara sekian banyak kenikmatan yang kita rasakan adalah nikmat umur. Betapa berharganya umur sehingga tidak dapat kita nilai dengan uang yang bertumpuk atau dengan emas yang berbungkal-bungkal. Rasulullah mengingatkan kita tentang betapa pentingnya memahami persoalan ini. Beliau bersabda: “Belum lagi hilang jejak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga kepadanya telah di ajukan empat pertanyaan, yaitu; Dari hal umurnya kemana dihabiskan. Dari hal tubuhnya untuk apa dipakainya. Dari hal ilmunya apa yang sudah diamalkan denganya dan dari hal hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya”. ( Hr. Bukhari).

Sadarilah pada waktu itu ketika sampai pertanyaan tentang usia yang kita habiskan, kita tak dapat berdusta sedikitpun, karena seluruh tubuh kita menjadi saksi dari apa yang kita kerjakan. Barulah timbul penyesalan yang ketika itu tidak berguna sebanyak apapun penyesalan kita bahkan tangis dan ratap kita tak dapat menolong sedikitpun. Umur kita akan melaporkan kepada Allah dengan tidak dikurangi dan ditambah sedikitpun. Sesungguhnya, semakin bertambah umur kita setahun semakin dekat kita kepada azal dan semakin dekat kita kepada azal, semakin dekat pula kita keliang kubur. Karenanya sebelum umur kita bercerai dari badan, jangan terlambat untuk bertaubat menyesali kealfaan diri. Jangan terpedaya oleh pesona keindahan dunia, jangan tergiur oleh pengaruh pangkat dan jabatan.

PERANGKAP HAWA NAFSU

Tausiyah No Comments »

Oleh: Ustad. Anwar Anshori Mahdum

“Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku, sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku, sesungguhnya Rabbku maha pengampun lagi maha penyayang”. Qs. Yusuf : 53

Sahabat yang budiman, dua penyakit berbahaya yang sering menjangkiti dan menyerang qalbu (hati) adalah syahwat dan syubhat. Syahwat adalah keinginan yang timbul dari jiwa hewani yang sering bertentangan dengan hukum suci (fitrah kebenaran). Dan syubhat adalah perkara atau keadaan yang tidak jelas haq dan bathilnya, halal dan haramnya. Ketahuilah kedua inilah biang dari segala penyakit yang sering diderita oleh manusia dan formula yang paling dahsyat mematikan hati.

Jika kedua penyakit ini telah mengakar dalam diri kita maka kita akan terperangkap dan terpedaya sehingga kita berada dalam jurang kebinasaan. Hanya kepada Allahlah kita mengharapkan rahmat dan hidayah-Nya. Sebab Dia-lah yang mampu membolak-balikan hati dan menundukan segala apa yang ada di langit dan di bumi.

Renungkanlah firman Allah : “Dan Dia menundukan untukmu apa yang di langit dan di bumi semuanya, sebagai rahamt darinya. Pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”. (Qs. Al-Jatsyiah [45] : 13 ).

Ketahuilah, dalam kehidupan ini, kita dikelilingi oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu yang mencengkram dengan kuat sejak hari kita dilahirkan, seperti kebutuhan makanan, pakaian dan tempat berteduh. Kebutuhan-kebutuhan ini adalah alami dan harus dipenuhi secara permanen. Ia adalah motif yang memungkinkan manusia berjuang terus-menerus. Sebagai hasil naluri ini, manusia menjauhi apa yang merugikannya dan tertarik kepada hal-hal yang menguntungkan tetapi kemudian dalam proses pencariannya, begitu banyak diantara kita yang lupa dan terlena sehingga terperangkap oleh belenggu hawa nafsu dan pada akhirnya tidak sedikit diantara kita yang tenggelam di laut kesesatan dan kerakusan.

Kita telah kehilangan hati nurani jauh lebih senang menjadi pelayan hawa nafsu. Sungguh, inilah awal sebuah kehancuran yang tak terelakan. H. Sholeh Muhammad Basalamah dalam bukunya Jerat-Jerat Kehidupan, dia menukil ungkapan Hasan Al-Basyri tentang keharusan untuk menahan hawa nafsu. Beliau berkata : Tiada sesuatu yang lebih patut engkau menahannya dari pada nafsumu. Tiada sesuatu yang patut engkau mengikatnya dari pada lidahmu. Dan tiada sesuatu yang lebih patut bagimu untuk tidak menerimanya dari pada hawa nafsumu (yang membisikan kejahatan) Sahabat, betapa jelas kita saksikan lautan manusia bergumul dan tenggelam dalam mengumpulkan harta kekayaan.

Modernisasi telah menjadikan kita manusia yang bersikap materialistis dan individualistis. Kita tak ubahnya seperti robot, menjadi mesin yang secara ritual terikat oleh kegiatan-kegiatan yang monoton. Kebanyakan kita telah kehilangan rasa kemanusiaan, rasa sayang bahkan toleransi antar saudara. Sebagai gantinya kita mengembangkan sifat kasar dan egois. Bahkan untuk memperoleh keuntungan material, kita sudah tak lagi sempat memperhatikan keluarga kita sendiri. Ketahuilah saudaraku, bagaimanapun panjangnya malam pastilah ia akan berakhir dengan menyingsingnya fajar. Bagaimanapun panjangnya usia ia akan berakhir dengan kematian. Dan bagaimanapun banyaknya harta kelak ia akan meninggalkan kita. sadari, selama menjalani kehidupan yang panjang ini, dari mulai ayunan sampai liang lahat beragam persoalan hadir menghampiri, gelombang musibah begitu sering mendekati.

Sungguh. semua problema itu memerlukan kesadaran pikiran dan ketajaman nurani. Dan kita tidak akan berhasil dalam perjuangan ini kecuali apabiala kita terus membiasakan diri untuk menampik dorongan hawa nafsu dan berjalan di atas landasan yang benar.

Muhammad Bin Abdul Qawi Al-Mardawi dalam Mandhumatul adab mengatakan : Kala hawa nafsu itu ditekan akan lahir kemuliaan, dan saat keinginannya dipenuhi akan lahir kehinaan. Bahkan ada yang berpendapat hawa nafsu adalah pembohong yang tak dapat dipercaya. Membiarkannya akan mempercepat datangnya kehancuran, dan memanjakannya akan semakin meneguhkan kebathilan.

Ketahuilah sahabat, Allah menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan untuk melayani manusia dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu hubungan manusia dengan alam semesta adalah hubungan keselarasan dan persahabatan. Kenyataan itu mengaruniai manusia kedamaian pikiran, kepuasan bathin dan kebahagiaan hidup. Orang yang selalu menyadari tentang hakikat kesementaraan hidup, hidupnya akan diilhami dengan cinta, harapan optimisme dan kepuasan. Cukuplah apa yang diberikan Allah kepadanya. Wahai Rabb yang membolak-balikan hati setiap hamba. Teguhkanlah pendirian kami pada agama-Mu. Tampak jelas Engkau memberikan hamparan karunia yang tak terbatas. Ajarilah kami ilmu-Mu yang maha luas,


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in