Fenomena cinta di valentine day dan Cinta yang sesungguhnya
Tausiyah No Comments »Sahabatku, berhubungan pekan ini banyak saudara2 kita yang ikut-ikutan merayakan valentine day.
Yang notabene sebenarnya bukan budaya kita, budaya bangsa Indonesia juga bukan bagian dari budaya agama Islam yang kita cintai ini maka kami akan menyajikan kajian tentang cinta yang sesungguhnya dan fenomena pacaran yang menohok islam.
What it’s Love
Cinta memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Fenomena yang terjadi sehari-hari mengungkapkanbahwa cinta dapat menjadi motivator aktivitas yang kita jalankan. Namun perlu juga kita sadari bahwa cinta dapat juga merusak aktivitas kita. Oleh karena itu disadari atau tidak, cinta mempengaruhi kehidupan seseorang, baik cinta kepada Allah atau bukan kepada Allah. Cinta bukan kepada Allah sering membawa kepada cinta buta yang tak terkendali sedangkan cinta kepada Allah akan membawa kedamaian dan ketenangan. Cinta kepada makhluk membawa ketidakpastian, penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada Allah akan membawa keyakinan dan keabadian.
Pembagian Cinta
1. Sesuai Syariat
Cinta seorang mukmin lahir dari ketulusan imannya kepada Allah SWT. Cinta kepada Allah dan RasulNya mesti diiringi nilai Islam yang benar. Kesalahan dalam mencintai Rasul akan membawa pada taqlid yang membabi buta dan menimbulkan figuritas yang berlebihan bahkan cenderung menjadi tuhan baru.
Cinta berdasarkan syariat akan kekal, tidak saja terjadi didunia tetapi akan berlanjut samapi di akhirat. Kasih sayang sebagai wujud dari cinta akan menghaluskan akhlaq dan melembutkan jiwa. Cinta yang sesuai syariat akan mengarahkan manusia untuk menyayangi yang lemah dan melindungi orang tua, mengajak pada kebaikan menguatkan keimanan.
2. Tidak sesuai dengan syariat
Cinta yang tidak sesuai dengan syariat berdasarkan atas keinginan syahwat. Cinta tanpa iman hanya memenuhi tuntunan syahwat semata (hawa nafsu). Cinta seperti ini tidak kekal dan biasanya bersifat materi. Cinta yang seperti ini hanya akan menyengsarakan manusia karena akan menggelincirkan manusia pada kehinaan dan penyesalan.
Namun satu hal yang perlu kita perhatikan adalah kecintaan pada syahwat (QS. Ali Imran (3) : 14) seperti wanita, anak, harta benda, binatang, ladang dan lain-lain dibenarkan keberadaannya oleh Allah karena kecintaan ini merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah cinta ini dapat membawa kita pada ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Yang perlu dilakukan adalah mengarahkan bahwa cinta ini perlu dikendalikan oleh syariat bukan dibunuh/ dihilangkan. Dengan panduan syariat kecintaan yang bersifat syahwati akan menuntun pada kebahagiaan yang haqiqi sedangkan tanpa syariat kecintaan syahwati ini akan membawa kesesatan dan kesengsaraan.
Tanda-tanda Cinta
1. Banyak mengingat yang dicintainya (QS.Al-anfal (8) : 2)
2. Kagum
Kagum muncul karena adanya suatu kelebihan yang dilihatnya, apakah bersifat subjektif maupun objektif. Kagum diawali dengan mengenal sesuatau yang lebih dibandingkan dengan yang lain. (QS. Al-Hasyr (59) : 24)
3. Ridha
Cinta menimbulkan keridhaan kepada yang dicintai apapun yang diperintahkan atau dilarang ia rela melaksanakannya. (QS. At Taubah (9) : 62)
4. Tadhiyah (siap berkorban)
Cinta akan membuat kesiapan untuk berkorban demi kepentingan yang dicintainya. Ia akan membela habis-habisan sebagai wujud dari cintanya (QS. Al Baqarah (2) : 207)
5. Takut
Ketakutan yang muncul dari cinta adalah dalam bentuk harap dan cemas berhadap agar yang dicintainya ridha dan cemas bila yang dicintainya tidak ridha kepadanya. (QS Al Anbiya (21):90)
Pacaran
Pacaran yang kita kenal saat ini adalah sebuah hubungan laki-laki dan perempuan bukan mahramnya tanpa ikatan nikah dan didalam hubungan mereka terjadi berbagai hal yang seharusnya tidak dilakukan. Fakta membuktikan bahwa orang yang melakukan hubungan diluar pernikahan banyak membawa mudharat. Di antaranya ialah timbulnya pergaulan bebas, kehamilan diluar nikah, dan penyakit AIDS yang merajalela. Dan diatas semua itu adalah semakin menjauh diri kita dari Allah, semakin lupa kita kepada Allah, semakin mudah kita melakukan dosa dan kemaksiatan.
Oleh karena itu bagi mereka yang belum mampu menikah dianjurkan untuk berpuasa agar lebih menjaga dirinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, “ Wahai generasi muda, barang siapa diantara kalian telah mampu serta berkeinginan hendaklah menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Tarmidzi).